Pernikahan Dini
Langit sore merebak, jingga mencengkram semua yang ada di ufuk barat. Senja yang indah, tak ingin kubuat menjadi resah. Biarlah ini menjadi keahlianku. “Mana janjimu?” tanyaku, lembut. “Janji yang mana?” “Mengajakku menikmati warna merah daun maple.” Dia tersenyum, menyimpan gawainya. Berada di musim gugur adalah impian kami sejak masih berseragam sekolah. Impian dua remaja yang meletakkan cinta di atas segala-galanya. Impian yang menjadi bahasan ketika sedang menikmati langit yang akhirnya berlebihan. “Buatkan dulu aku kopi!” “Gulanya habis.” “Kopi pahit lebih enak.” “Kopinya juga habis.” “Kalau begitu tersenyumlah! Senyummu lebih nikmat.” “Penuhi dulu janjimu!” “Ini bukan musim gugur, sayang. Ini saja dulu ….” Dia menarikku kepangkuannya. Menyihir mataku dengan manik matanya, membekukan urat syaraf penolakan di tubuhku dengan untaian katanya. Aku terlalu cepat terlena, mungkin karena itu juga pernikahan dini harus kami jala...